Review film Cuties: Kritikan Untuk HiperSeks Anak Pra-Remaja Masa Kini

Cuties merupakan sebuah film Prancis yang dirilis perdana pada awal 2020 di Festival Film Sundance, dan beberapa saat yang lalu ditayangkan di platform digital Netflix, nah, sebelumnya saat pengumuman awal akan dirilis di Netflix ini sudah membuahkan beberapa kritikan/ hujatan dari beberapa pengguna maupun anggota komunitas film lainnya. Film yang menampilkan cerita tentang kisah kehidupan gadis kecil berusia 11 tahun dari tradisi keluarganya yang taat dan sopan sampai berubah menjadi penari yang bebas dan sangat rusak, yang dapat disimpulkan dari beberapa sebab, bisa dari tekanan keluarga dan juga ketertarikan diri sendiri untuk berperan dengan teman-temannya.

Jika kalian belum menonton film sepenuhnya, maka jangan mudah untuk membuat kritikan atau mudah termakan provokasi. Banyak kritikan yang benar mungkin karena penggunaan aktris sebenarnya yang benar-benar masih dibawah umur, ya gadis pemeran utama dari film ini yang bernama Fathia Youssouf masih berusia 11 tahun. Fathia Youssouf terpilih dari 650 gadis yang mengikuti audisi untuk peran utama itu.

Maïmouna Doucouré selaku sutradara menyatakan "Saya menjelaskan kepada mereka semua yang saya lakukan dan penelitian yang telah saya lakukan sebelum saya menulis cerita ini. Saya juga beruntung karena orang tua gadis-gadis ini juga aktivis, jadi kita semua sama sisi. Pada usia mereka, mereka telah melihat jenis tarian ini. Setiap anak yang memiliki telepon dapat menemukan gambar-gambar ini di media sosial hari ini." Ia juga menyatakan bahwa dia bekerja dengan psikolog anak selama pembuatan film.

Doucouré menghabiskan hampir 18 bulan untuk meneliti studi tentang bagaimana anak-anak muda dan pra-remaja terpapar konten dewasa dan gambar seksual di media sosial untuk menampilkan realitas akurat dalam film tersebut. Dia berbicara dengan banyak gadis muda tentang masalah ini. Dia mengatakan bahwa film tersebut berhubungan dengan citra diri dan media sosial. "Gadis-gadis melihat bahwa semakin banyak seorang wanita yang terlalu seksual di media sosial, semakin dia sukses. Dan anak-anak hanya meniru apa yang mereka lihat, mencoba mencapai hasil yang sama tanpa memahami artinya, dan ya, itu berbahaya." Dia mengatakan bahwa meskipun menonton film itu mungkin sulit, penting untuk membicarakan masalah ini di masyarakat.


Ya, film Cuties ini diluar pemakaian pemeran asli yang masih dibawah umur untuk melakukan hal-hal hiperseks, ini film yang penuh makna dan indah, kita akan mendapatkan pelajaran hidup dari sini, karena ceritanya bukan hanya membiarkan merusak karakter, tapi memberikan pengalaman padanya, sebab hal itu bukan sepantasnya dilakukan bagi anak-anak seumurannya ataupun tradisi kehidupan aslinya. Kalian pasti mengerti jika telah menonton dan melihat bagian ending-nya, yang membuat film ini lebih menyentuh adalah soundtrack penutupnya menurut saya (Ablaye Cissoko, Volker Goetze - Amanké Dionti). Mengingatkan saya juga pada film The Florida Project (2017) yang juga menampilkan peran utama anak-anak dengan latar kehidupan liar dan bebas, mengganggu orang, berkata kotor, berbohong, itulah yang dilakukan anak-anak itu. Ya, sangat berbeda dari cerita film ini, tapi film-film ini adalah pesan betapa liarnya kehidupan diluar sana yang dikemas dengan indah.

Maïmouna Doucouré
Nyatanya film ini mendapatkan beberapa nominasi di Berlin International Film Festival 2020 dan memenangkan penghargaan bagian World Cinema - Dramatic untuk penyutradaraan di Sundance Film Festival 2020.

Terkait kotroversialnya, nilailah dari pandangan kalian sendiri. Sebagai tanggapan, Netflix membela Cuties dengan mengatakan bahwa film itu adalah bagian dari "komentar sosial terhadap seksualisasi anak-anak" dan mendorong pelanggan untuk menontonnya. Dalam wawancara lebih lanjut, Doucouré mengklaim bahwa orang-orang yang kesal dengan filmnya belum menontonnya, dengan menyatakan: "Saya menyadari bahwa orang-orang yang memulai kontroversi ini belum menonton filmnya. Netflix meminta maaf kepada publik dan diri saya sendiri. Saya berharap orang-orang ini akan menonton filmnya sekarang setelah film itu keluar. Saya sangat ingin melihat reaksi mereka ketika mereka menyadari bahwa kita berdua berada di pihak yang sama dalam perjuangan melawan anak-anak hiperseksualisasi."

Terkait:

Belum ada komentar. Silahkan berikan komentar tentang pendapat atau review Anda disini :)

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel